SURABAYA – Menjadi juara dalam sebuah kompetisi tentu menjadi kebanggaan. Namun, kemenangan bukanlah satu-satunya tujuan yang harus dikejar oleh seorang pelajar. Yang lebih penting adalah bagaimana proses kompetisi mampu membentuk mental untuk terus belajar, tidak mudah menyerah, serta memiliki tujuan yang jelas untuk masa depan. Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, saat membuka kegiatan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) di MTsN 2 Kota Surabaya, Selasa (8/9/2026).
Di hadapan para peserta, Muhammad Muslim mengingatkan agar siswa tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai ukuran utama keberhasilan. Bagi peserta yang berhasil meraih juara, ia berpesan agar tidak larut dalam kebanggaan. Sementara bagi peserta yang belum memperoleh hasil terbaik, ia meminta agar tidak berputus asa.
“Jangan berbangga diri ketika kalian juara, untuk yang belum juara jangan berputus asa. Selalu ada kesempatan bagi yang tidak pernah menyerah,” pesannya.
Menurutnya, kompetisi merupakan bagian dari proses belajar. Kemenangan dapat menjadi motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan, sedangkan kekalahan dapat menjadi pengalaman untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki diri. Karena itu, para peserta OMI diharapkan tidak berhenti belajar hanya karena telah mengikuti sebuah perlombaan. Semangat untuk terus meningkatkan kemampuan harus tetap tumbuh dalam diri setiap siswa.
Muhammad Muslim juga mengingatkan para siswa mengenai salah satu tantangan yang kerap dihadapi dalam proses belajar, yakni rasa malas. Menurutnya, kemampuan dan potensi yang dimiliki tidak akan berkembang secara optimal apabila tidak dibarengi dengan kemauan untuk belajar dan berusaha.
“Tetap belajar, taklukkan rasa malas adik-adik sekalian,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi bekal penting bagi para peserta OMI untuk melihat kompetisi bukan hanya sebagai ajang adu kemampuan, tetapi juga sebagai proses membangun karakter. Ketekunan, keberanian menghadapi tantangan, dan kemampuan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang pelajar. Lebih jauh, Muhammad Muslim mengajak para siswa untuk tidak hanya berpikir tentang pencapaian hari ini. Menurutnya, setiap siswa memiliki masa depan yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Apa yang dilakukan selama menempuh pendidikan akan menjadi bagian dari proses menuju cita-cita yang ingin dicapai.

“Ada masa depan yang harus dicapai, jadilah kebanggaan orang tua kalian,” ujarnya.
Ia berharap para peserta mampu menjadikan kesempatan belajar dan berkompetisi sebagai bagian dari upaya mempersiapkan masa depan. Prestasi yang diraih hari ini hendaknya tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi menjadi pijakan untuk terus berkembang dan meraih pencapaian yang lebih besar.
Untuk itu, fokus terhadap tujuan menjadi hal yang tidak kalah penting. Para siswa perlu mengetahui apa yang ingin dicapai dan kemudian menjaga konsistensi dalam proses untuk menuju tujuan tersebut. OMI 2026 jenjang MTs pun menjadi salah satu ruang bagi siswa madrasah untuk menguji kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman dalam suasana kompetitif. Setiap peserta hadir dengan kemampuan dan potensi masing-masing, sehingga hasil akhir bukan menjadi satu-satunya ukuran dari proses yang telah mereka jalani.
Bagi mereka yang berhasil meraih prestasi, kemenangan dapat menjadi dorongan untuk terus belajar dengan tetap rendah hati. Sedangkan bagi peserta yang belum berhasil, pengalaman mengikuti OMI dapat menjadi bekal untuk kembali mencoba dan mempersiapkan diri dengan lebih baik. Semangat untuk tidak mudah menyerah inilah yang ditekankan Muhammad Muslim kepada para peserta. Sebab, perjalanan menuju masa depan tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Akan ada tantangan, kegagalan, maupun kesempatan yang harus dihadapi dengan kesiapan dan kemauan untuk terus belajar.
Melalui OMI 2026, para siswa madrasah diharapkan tidak hanya mendapatkan pengalaman berkompetisi, tetapi juga semakin memahami pentingnya proses, ketekunan, dan fokus terhadap tujuan. Sebab, menjadi juara dalam sebuah perlombaan hanyalah salah satu pencapaian, sementara perjalanan untuk meraih masa depan masih jauh lebih panjang.
Pada akhirnya, pesan Kepala Kemenag Surabaya tersebut menegaskan bahwa prestasi bukan sekadar tentang siapa yang berdiri sebagai juara, tetapi tentang siapa yang mampu terus belajar, menaklukkan rasa malas, bangkit ketika gagal, dan tetap berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai.

