WhatsApp Image 2026-06-29 at 14.38.26

Aksi Nyata Kemenag Surabaya dan Densus 88: Perkuat Moderasi Beragama, Cegah Radikalisme dan Ekstremisme di Kota Surabaya

SURABAYA – Pencegahan radikalisme dan ekstremisme tidak cukup dilakukan melalui pendekatan penegakan hukum semata. Diperlukan langkah yang lebih mendasar melalui penguatan pemahaman keagamaan, peningkatan literasi moderasi beragama, serta edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya bersama Densus 88 Antiteror berkomitmen memperkuat sinergi dalam membangun sistem pencegahan dini melalui program edukasi dan pembinaan di lingkungan Kementerian Agama.

Komitmen tersebut menjadi tindak lanjut dari koordinasi antara Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya dan Densus 88 Antiteror yang menghasilkan kesepahaman untuk melaksanakan program sosialisasi dan penguatan moderasi beragama bagi ASN Kementerian Agama Kota Surabaya. Program ini dirancang sebagai langkah preventif guna meningkatkan pemahaman aparatur terhadap potensi penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan, sekaligus memperkuat peran ASN sebagai agen moderasi beragama di tengah masyarakat.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, menegaskan bahwa pencegahan merupakan strategi yang paling efektif dalam menjaga masyarakat dari masuknya paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan. Menurutnya, ASN Kementerian Agama memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di garda terdepan dalam pelayanan keagamaan dan pembinaan masyarakat.

blank blank

“Upaya mencegah radikalisme harus dimulai dari penguatan pemahaman. ASN Kementerian Agama harus memiliki wawasan yang utuh tentang moderasi beragama agar mampu menjadi teladan sekaligus memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat,” ujarnya.

Muhammad Muslim menjelaskan bahwa sosialisasi yang akan dilaksanakan bersama Densus 88 tidak hanya memberikan pemahaman mengenai karakteristik dan pola penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan melakukan deteksi dini serta langkah-langkah pencegahan melalui pendekatan edukatif dan pembinaan keagamaan.

Program tersebut direncanakan menyasar seluruh ASN di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, mulai dari jajaran Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama, penghulu, kepala madrasah, guru, pengawas madrasah, hingga pegawai di lingkungan kantor. Mereka diharapkan menjadi ujung tombak dalam menyebarluaskan nilai-nilai moderasi beragama kepada masyarakat melalui ruang-ruang pembinaan, pendidikan, dan pelayanan keagamaan.

Lebih lanjut, Muhammad Muslim menekankan bahwa penguatan moderasi beragama bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Agama, tetapi merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman. Nilai-nilai toleransi, saling menghormati, cinta tanah air, serta komitmen terhadap kehidupan berbangsa harus terus ditanamkan melalui berbagai media pembinaan dan dakwah.

Menurutnya, penyuluh agama, penghulu, guru madrasah, kepala madrasah, hingga para khatib memiliki peran strategis sebagai penyampai pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan. Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman yang komprehensif agar mampu membangun narasi keagamaan yang damai, inklusif, dan rahmatan lil ‘alamin, sekaligus mampu menangkal berkembangnya paham-paham yang mengarah pada radikalisme dan ekstremisme.

Melalui sinergi bersama Densus 88, Kementerian Agama Kota Surabaya berharap lahir sistem pencegahan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh ASN dalam kegiatan sosialisasi nantinya tidak berhenti pada lingkungan internal, tetapi diteruskan kepada masyarakat melalui madrasah, Kantor Urusan Agama, majelis taklim, forum penyuluhan, hingga mimbar-mimbar dakwah sehingga semakin luas masyarakat yang memperoleh edukasi mengenai pentingnya moderasi beragama.

Kolaborasi ini menjadi wujud nyata komitmen Kementerian Agama Kota Surabaya dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap pengaruh radikalisme dan ekstremisme melalui pendekatan pembinaan, edukasi, dan penguatan nilai-nilai keagamaan yang moderat. Dengan sinergi lintas sektor yang semakin erat, diharapkan Kota Surabaya terus menjadi daerah yang harmonis, aman, serta mampu menjaga kerukunan umat beragama di tengah keberagaman masyarakatnya.
blank

Read More
WhatsApp Image 2026-07-01 at 08.58.03

Perkuat Sinergi, Kemenag Surabaya dan Densus 88 Kolaborasi Tangkal Radikalisme

Surabaya— Upaya memperkuat ketahanan masyarakat terhadap penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme terus menjadi perhatian KanKemenag Kota Surabaya. Penguatan sinergi lintas lembaga menjadi langkah strategis dalam membangun kesadaran masyarakat, memperluas pemahaman moderasi beragama, serta menciptakan lingkungan sosial yang aman dan harmonis.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui audiensi Kepala Kankemenag Kota Surabaya,Muhammad Muslim, bersama jajaranDensus 88 yang berlangsung di ruang kerja Kankemenag Kota Surabaya pada Senin, 11 Mei 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang koordinasi untuk memperkuat kerja sama dalam upaya pencegahan penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai agama, kemanusiaan, dan kebangsaan.

blank

Dalam audiensi tersebut, kedua pihak membahas pentingnya pencegahan radikalisme dan ekstremisme secara berkelanjutan, khususnya melalui penguatan peran tokoh dan penyuluh agama yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Pendekatan edukatif dinilai menjadi salah satu cara efektif dalam membangun pemahaman keagamaan yang utuh dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi ekstrem.

Sebagai tindak lanjut dari kerja sama tersebut, Muslim berencana menghadirkan pembekalan khusus bagi para penyuluh agama dengan melibatkan pemateri ahli dari Densus 88. Pembekalan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas penyuluh dalam mengenali potensi penyebaran paham radikal sekaligus memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat.

Muslim menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki posisi strategis karena menjadi garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan berbagai lapisan masyarakat. Peran penyuluh tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menjadi penguat nilai toleransi, persatuan, dan moderasi beragama di tengah masyarakat.

blank

Penyuluh memiliki peran vital sebagai benteng ideologi. Melalui pembekalan ini nantinya, diharapkan mereka akan lebih siap untuk mengedukasi masyarakat umum maupun pelajar melalui rencana program Moderasi Beragama Goes to School,” jelas Muslim.

Menurut Muslim, penguatan pemahaman moderasi beragama perlu dimulai sejak dini, terutama di kalangan generasi muda. Lingkungan pendidikan menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai keberagamaan yang damai, menghargai keberagaman, serta membangun sikap kritis terhadap berbagai informasi yang berpotensi menyesatkan.

ProgramModerasi Beragama Goes to School menjadi salah satu langkah konkret dalam menghadirkan edukasi keagamaan yang lebih luas kepada pelajar. Melalui program tersebut, diharapkan siswa mampu memahami agama secara komprehensif sekaligus memiliki karakter yang menjunjung tinggi toleransi dan nilai kebangsaan.

Kolaborasi antara Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya dan Densus 88 menunjukkan pentingnya kerja bersama dalam menjaga kondusivitas masyarakat. Pencegahan radikalisme tidak hanya dilakukan melalui penindakan, tetapi juga melalui penguatan literasi keagamaan, pembinaan karakter, dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan sinergi yang terus diperkuat, Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya berharap upaya membangun masyarakat yang moderat dapat berjalan secara berkelanjutan. Penguatan nilai-nilai moderasi beragama di berbagai lini menjadi bagian penting dalam mewujudkan Surabaya sebagai kota yang aman, harmonis, dan toleran.

blank

Read More