SURABAYA – Prestasi tidak hanya lahir dari kemampuan akademik. Bagi peserta didik jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), kesiapan mental menjadi bagian penting yang perlu dibangun sejak dini agar mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar maupun kompetisi. Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya, Muhammad Muslim, saat membuka kegiatan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 jenjang MI di MAN Kota Surabaya, Rabu (9/9/2026).
Dalam arahannya, Muhammad Muslim menekankan pentingnya membangun mental peserta agar tetap tangguh dalam menghadapi kompetisi. Menurutnya, peserta perlu dibekali dengan kesiapan untuk menghadapi berbagai situasi, termasuk ketika berhadapan dengan soal-soal yang memiliki tingkat kesulitan maupun bentuk yang beragam. Karena itu, ia meminta agar proses persiapan peserta tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi. Pembinaan mental harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari persiapan menuju kompetisi. Anak-anak perlu dibiasakan menghadapi berbagai jenis soal. Dengan demikian, mereka tidak hanya memiliki kemampuan dalam menjawab soal, tetapi juga terbiasa menghadapi tantangan dan tidak mudah kehilangan kepercayaan diri ketika menemukan sesuatu yang berbeda dari latihan yang selama ini diberikan.

“Biasakan peserta menghadapi berbagai jenis soal untuk meningkatkan kesiapan mental,” pesannya.
Muhammad Muslim juga memberikan perhatian khusus terhadap peran pendamping. Ia menilai pendamping memiliki posisi penting dalam menjaga kondisi mental peserta, terutama karena siswa MI masih berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan perhatian dan pendekatan yang sesuai dengan karakter masing-masing. Pendamping diharapkan tidak hanya berperan sebagai pembimbing dalam aspek akademik, tetapi juga mampu memahami kondisi personal peserta. Pendekatan secara personal diperlukan agar anak tetap merasa nyaman, percaya diri, dan mampu mengikuti kompetisi dengan kondisi mental yang baik.
“Lakukan pendekatan personal kepada peserta untuk menjaga mental mereka,” tegasnya.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan respons yang berbeda ketika menghadapi tekanan kompetisi. Ada peserta yang mampu menghadapi tantangan dengan percaya diri, sementara peserta lainnya mungkin membutuhkan penguatan dan pendampingan lebih dekat. Dengan memahami kondisi peserta secara personal, pendamping dapat memberikan dukungan yang sesuai sehingga kompetisi menjadi pengalaman belajar yang positif bagi anak.
Selain mental, Muhammad Muslim juga menekankan pentingnya membangun kedisiplinan. Menurutnya, persiapan mengikuti kompetisi harus diiringi dengan kebiasaan disiplin, termasuk dalam menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan. Kedisiplinan tersebut tidak hanya diperlukan selama persiapan OMI. Kebiasaan menyelesaikan tugas dengan baik merupakan bagian dari pembentukan karakter peserta didik yang akan menjadi bekal dalam proses pendidikan mereka selanjutnya. Dengan demikian, proses persiapan OMI diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta yang siap menghadapi perlombaan, tetapi juga membentuk kebiasaan positif dalam diri siswa. Belajar secara teratur, menyelesaikan tugas, menghadapi berbagai bentuk soal, serta mampu mengelola tekanan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Muhammad Muslim menegaskan bahwa kompetisi harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Hasil perlombaan memang penting, tetapi proses yang dijalani peserta selama mempersiapkan diri juga memiliki nilai pendidikan yang tidak kalah besar. Melalui proses tersebut, siswa belajar menghadapi tantangan, mengenali kemampuan dirinya, serta membangun keberanian untuk mencoba. Ketika menghadapi soal yang sulit, misalnya, peserta tidak langsung menyerah, tetapi belajar mencari cara untuk menyelesaikannya.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan pembinaan peserta didik di madrasah yang tidak hanya menekankan kemampuan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. Mental yang kuat dan disiplin menjadi modal penting agar kemampuan akademik yang dimiliki siswa dapat berkembang secara optimal. Pelaksanaan OMI 2026 jenjang MI pun menjadi momentum bagi para siswa untuk mendapatkan pengalaman berkompetisi sekaligus belajar menghadapi tantangan sejak dini. Setiap peserta memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam suasana kompetisi yang sehat.
Namun, di balik kompetisi tersebut terdapat proses pembelajaran yang lebih panjang. Anak-anak sedang belajar bahwa sebuah pencapaian membutuhkan persiapan, latihan, kedisiplinan, serta keberanian menghadapi berbagai kemungkinan. Dalam konteks inilah peran pendamping menjadi sangat strategis. Pendamping tidak hanya membantu peserta memahami materi dan mempersiapkan soal, tetapi juga ikut memastikan bahwa anak memiliki kesiapan mental dan tetap menikmati proses belajar.
Dengan pendampingan yang tepat, latihan yang beragam, serta pembiasaan disiplin, peserta diharapkan semakin siap menghadapi kompetisi tanpa kehilangan semangat belajar. OMI 2026 akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk menunjukkan siapa yang memiliki kemampuan terbaik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa MI untuk belajar berani menghadapi tantangan, membangun ketangguhan mental, dan membiasakan diri untuk disiplin sejak usia dini. Sebab, prestasi yang baik membutuhkan fondasi yang kuat. Dan fondasi itu tidak hanya berupa kemampuan menjawab soal, tetapi juga mental yang tangguh, pendampingan yang tepat, serta kedisiplinan yang terus dibangun melalui proses sehari-hari.

