SURABAYA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk kembali melihat dan mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Di tengah kesempurnaan fisik yang dimiliki, manusia justru kerap lupa menghargai nikmat tersebut dan kurang bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan. Pesan reflektif tersebut disampaikan Muhammad Muslim, Kepala KanKemenag Kota Surabaya dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Kelompok Kerja Penyuluh Kementerian Agama Kota Surabaya berkolaborasi dengan Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Republik Indonesia (PD Ipari) Kota Surabaya yang bertempat di Masjid Jenderal Sudirman, Jalan Pandugo V/2 Surabaya, Rabu (9/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Syukur perlu diwujudkan melalui kesadaran untuk menghargai setiap nikmat yang diberikan Allah SWT, termasuk kesempurnaan fisik dan kemampuan yang dimiliki. Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan semangat saudara-saudara difabel yang tetap menunjukkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Semangat tersebut menjadi cermin bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendekat kepada Allah dan mencintai Rasulullah.

“Kita harus malu karena kurang bersyukur atas kesempurnaan fisik yang diberikan Allah. Bagaimana hina dan malunya kita, sedangkan saudara kita difabel begitu semangat mencintai Al-Qur’an dan Nabi Muhammad.”
Pesan tersebut mengajak seluruh peserta untuk melakukan introspeksi. Nikmat kesehatan, kemampuan membaca, melihat, mendengar, bergerak, serta berbagai kesempurnaan lainnya merupakan karunia yang semestinya semakin mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Semangat saudara-saudara difabel dalam mencintai Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW dapat menjadi pelajaran penting. Ketika seseorang dengan keterbatasan fisik mampu menjaga kecintaan terhadap Al-Qur’an dan Rasulullah, maka mereka yang diberikan berbagai kesempurnaan semestinya memiliki semangat yang lebih besar untuk menggunakan nikmat tersebut dalam kebaikan.
Momentum Maulid Nabi pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW perlu menjadi ruang untuk memperkuat kembali hubungan spiritual, memperbanyak kecintaan kepada Nabi, sekaligus mengevaluasi bagaimana nikmat Allah selama ini telah digunakan. Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW juga tidak hanya diwujudkan melalui ungkapan cinta dan shalawat. Kecintaan tersebut semestinya tercermin dalam upaya mengikuti keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian pula dengan kecintaan kepada Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga menjadi pedoman yang nilai-nilainya dihadirkan dalam kehidupan. Semangat mencintai Al-Qur’an perlu dibangun melalui kebiasaan untuk membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan pesan-pesannya. Bagi para penyuluh agama, pesan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Sebagai bagian dari garda pelayanan keagamaan di tengah masyarakat, penyuluh memiliki ruang untuk terus menumbuhkan kesadaran umat tentang pentingnya rasa syukur dan kecintaan kepada ajaran agama.
Peringatan Maulid Nabi dapat menjadi salah satu momentum untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tidak hanya berbicara tentang sejarah kelahiran Rasulullah, tetapi juga menggali nilai keteladanan yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan. Melalui refleksi terhadap nikmat yang dimiliki, umat diajak untuk tidak menjadikan kesempurnaan sebagai alasan untuk lupa bersyukur. Sebaliknya, setiap nikmat harus menjadi jalan untuk meningkatkan pengabdian kepada Allah SWT.
Semangat saudara-saudara difabel dalam mencintai Al-Qur’an dan Rasulullah pun menjadi pengingat bahwa kedekatan kepada Allah tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh ketulusan hati, kesungguhan, dan amal yang dilakukan. Karena itu, Maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan mampu melahirkan kesadaran baru untuk lebih menghargai nikmat, memperbanyak syukur, serta menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan Rasulullah SAW. Pada akhirnya, memperingati Maulid bukan hanya tentang mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga tentang menghidupkan kembali spirit keteladanan beliau dalam diri dan menjadikan setiap nikmat Allah sebagai alasan untuk semakin dekat kepada-Nya.

