SURABAYA – Menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun fondasi generasi Islam di masa mendatang. Semangat tersebut menjadi perhatian Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya melalui Seksi Pendidikan Madrasah (Pendma) yang menggelar kegiatan Munaqosah dan Sertifikasi Calon Munaqish Tahsin jenjang Raudhatul Athfal (RA) se-Kota Surabaya. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kemenag Kota Surabaya tersebut dibuka oleh Kepala Kemenag Kota Surabaya, Muhammad Muslim. Sebanyak 106 peserta mengikuti kegiatan yang dilaksanakan dalam dua sesi, dengan masing-masing 53 peserta mengikuti munaqosah pada hari pertama dan 53 peserta lainnya dijadwalkan mengikuti sesi berikutnya pada hari kedua.
Dalam arahannya, Muhammad Muslim menekankan pentingnya pembelajaran Al-Qur’an dimulai sejak jenjang pendidikan paling dasar. Menurutnya, RA memiliki posisi strategis dalam memberikan pengalaman awal kepada anak untuk mengenal, membaca, dan mencintai Al-Qur’an.
“Penting membaca dan belajar Al-Qur’an sejak RA. Ini menjadi fondasi dan pijakan awal,” pesan Muslim.
Menurutnya, pembelajaran Al-Qur’an yang ditanamkan sejak usia dini diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca semata. Lebih jauh, pembelajaran tersebut perlu menjadi bagian dari proses membentuk karakter dan kecintaan anak terhadap nilai-nilai Islam. Fondasi yang dibangun sejak RA, lanjutnya, akan menjadi bekal bagi peserta didik untuk melanjutkan proses pendidikan pada jenjang berikutnya. Dari proses tersebut diharapkan lahir generasi Islam yang memiliki dasar keagamaan kuat sekaligus mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di masa depan.

“Diharapkan menjadi fondasi dan pijakan awal yang kemudian bisa melahirkan generasi Islam yang baik di masa akan datang,” ujarnya.
Muslim juga melihat madrasah memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki bekal keilmuan agama. Menurutnya, madrasah merupakan salah satu ruang penting untuk mempersiapkan kader-kader ulama melalui proses pendidikan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Kader-kader ulama dari madrasah. Madrasah menyiapkan kader yang alim,” tegasnya.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, penguatan pembelajaran Al-Qur’an perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Karena itu, keberadaan calon munaqish tahsin memiliki peran penting dalam menjaga kualitas proses pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan RA. Munaqish tidak hanya dituntut memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, tetapi juga memiliki pemahaman serta kemampuan yang dapat mendukung proses pembinaan peserta didik. Melalui proses sertifikasi dan munaqosah, kompetensi para calon munaqish diharapkan dapat dipastikan sebelum nantinya menjalankan peran dalam pembelajaran tahsin.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Kemenag Surabaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran Al-Qur’an di madrasah. Dengan adanya pendamping dan penguji yang memiliki kompetensi, proses pembelajaran Al-Qur’an di tingkat RA diharapkan dapat berlangsung secara lebih terarah. Muhammad Muslim juga menyampaikan bahwa perhatian terhadap pendidikan keagamaan di madrasah tidak berhenti pada pembelajaran Al-Qur’an. Madrasah juga memiliki ruang untuk memberikan bekal keilmuan Islam yang lebih luas kepada peserta didik. Ia mencontohkan adanya pembelajaran kitab kuning di lingkungan madrasah yang dapat menjadi bagian dari penguatan tradisi keilmuan Islam.
“Madrasah juga menyiapkan belajar kitab kuning setara pondok pesantren,” ungkapnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa madrasah memiliki peran yang luas dalam membangun generasi yang memiliki fondasi keagamaan sekaligus wawasan keilmuan. Pembelajaran Al-Qur’an sejak RA menjadi salah satu pintu awal yang kemudian dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik. Dalam konteks tersebut, sertifikasi calon munaqish tahsin menjadi lebih dari sekadar proses pengujian kemampuan. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk memastikan bahwa semangat mencintai dan mempelajari Al-Qur’an sejak usia dini didukung oleh sumber daya pendidik dan pembina yang memiliki kompetensi.
Muslim juga mengajak seluruh peserta untuk terus menumbuhkan semangat membumikan Al-Qur’an. Menurutnya, Al-Qur’an harus hadir dalam kehidupan, tidak hanya sebagai bacaan, tetapi juga menjadi sumber nilai yang membentuk perilaku dan karakter generasi.
“Menumbuhkan semangat untuk membumikan Al-Qur’an,” pesannya.
Sebanyak 106 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan gerakan pembelajaran Al-Qur’an di jenjang RA Kota Surabaya. Pelaksanaan dalam dua sesi memberikan ruang bagi seluruh peserta untuk mengikuti proses munaqosah secara optimal. Melalui kegiatan ini, Kemenag Surabaya terus membangun fondasi pembelajaran Al-Qur’an sejak pendidikan usia dini. Sebab, kecintaan terhadap Al-Qur’an yang ditanamkan sejak RA diharapkan tumbuh menjadi karakter yang terus melekat dalam perjalanan pendidikan anak hingga dewasa. Dari madrasah, proses menyiapkan generasi Islam masa depan dimulai dari hal yang paling mendasar mengenalkan anak kepada Al-Qur’an, menumbuhkan kecintaan terhadapnya, dan memastikan proses pembelajarannya dibimbing oleh mereka yang memiliki kompetensi. Dengan fondasi tersebut, semangat membumikan Al-Qur’an diharapkan terus tumbuh dan melahirkan generasi Islam yang baik di masa mendatang.

