SURABAYA – Masa pensiun bukan menjadi akhir dari hubungan pengabdian dan persaudaraan dalam keluarga besar Kementerian Agama. Setelah bertahun-tahun mengabdikan diri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, para pensiunan tetap memiliki ruang untuk menjaga silaturahmi, berbagi pengalaman, sekaligus memberikan kontribusi pemikiran bagi perkembangan Kementerian Agama. Semangat tersebut terlihat dalam kunjungan Pengurus Wilayah Persaudaraan Pensiunan Pegawai Kementerian Agama Republik Indonesia (PW-PPPKA) Jawa Timur ke Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya pada Rabu (26/8/2026), bertempat di Ruang Kerja Kepala Kankemenag Kota Surabaya.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus membangun komunikasi antara jajaran Kemenag Surabaya dengan para pensiunan pegawai yang sebelumnya telah mengabdikan diri dalam pelayanan masyarakat di lingkungan Kementerian Agama. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Kehadiran para senior yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Kementerian Agama menjadi kesempatan bagi jajaran Kemenag Surabaya untuk kembali menyambung komunikasi sekaligus menghargai kontribusi yang telah diberikan selama masa pengabdian.
Dalam kesempatan tersebut, jajaran PW-PPPKA Jawa Timur menyampaikan surat permohonan pengangkatan dan pengesahan Pengurus Daerah PPPKA Kota Surabaya untuk masa bakti 2026–2031. Pengajuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan pelantikan Pengurus Daerah PPPKA Kota Surabaya. Keberadaan kepengurusan tersebut diharapkan dapat menjadi wadah bagi para pensiunan pegawai Kementerian Agama untuk terus menjaga persaudaraan, memperkuat komunikasi, serta melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, menyambut baik kunjungan PW-PPPKA Jawa Timur tersebut. Menurutnya, keberadaan para pensiunan memiliki arti penting bagi keluarga besar Kementerian Agama karena mereka merupakan bagian dari perjalanan dan sejarah institusi. Muslim menilai bahwa masa pensiun seharusnya tidak menjadi batas berakhirnya hubungan antara seorang pegawai dengan institusi tempatnya mengabdi. Justru, pengalaman panjang yang dimiliki para pensiunan dapat menjadi sumber pengetahuan dan pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi pegawai yang saat ini melanjutkan estafet pengabdian.
Pengalaman menghadapi berbagai dinamika pelayanan, pengetahuan tentang birokrasi, serta pemahaman terhadap karakter masyarakat merupakan modal penting yang tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui pendidikan formal. Karena itu, Muslim berharap komunikasi antara Kemenag Surabaya dengan para pensiunan dapat terus terjaga. Para senior diharapkan tidak sungkan untuk memberikan masukan, kritik, maupun gagasan yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi jajaran Kemenag Surabaya.

“Kami berharap tetap mendapatkan bimbingan dari para senior. Mohon terus memberikan masukan untuk kemajuan dan perkembangan Kemenag Surabaya,” ujar Muslim.
Menurutnya, perjalanan pengabdian para pensiunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Kementerian Agama. Apa yang telah dilakukan oleh para senior pada masa lalu menjadi fondasi yang turut membentuk kondisi Kemenag saat ini. Karena itu, generasi yang saat ini bertugas memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan estafet tersebut dengan memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat.
Muslim menegaskan bahwa para pensiunan bukan sekadar bagian dari masa lalu sebuah institusi. Mereka merupakan sumber pengalaman yang dapat menjadi rujukan bagi generasi berikutnya. Dalam perjalanan sebuah organisasi, pengalaman para senior memiliki nilai yang sangat penting. Berbagai persoalan yang pernah dihadapi, cara menyelesaikan permasalahan, serta pengalaman membangun pelayanan kepada masyarakat dapat menjadi pembelajaran bagi pegawai yang saat ini menjalankan tugas.
Hubungan yang terjaga antara pegawai aktif dan pensiunan juga menjadi bagian dari upaya merawat budaya kekeluargaan di lingkungan Kementerian Agama. Menurut Muslim, hubungan tersebut tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk kegiatan formal. Komunikasi sederhana, silaturahmi, saling bertukar informasi, hingga memberikan masukan terhadap perkembangan organisasi merupakan bentuk kontribusi yang tetap memiliki nilai.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian kepada Kementerian Agama tidak selalu berhenti ketika seseorang memasuki masa purna tugas. Semangat untuk memberikan manfaat dapat terus dilakukan melalui cara dan ruang yang berbeda. Di sisi lain, keberadaan organisasi pensiunan juga memiliki peran penting dalam menjaga hubungan antarsesama anggota yang telah lama menjadi bagian dari keluarga besar Kementerian Agama.
Melalui wadah PPPKA, para pensiunan dapat terus membangun komunikasi, mempererat persaudaraan, serta saling memberikan dukungan. Organisasi tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga semangat kebersamaan setelah para anggota menyelesaikan masa tugas kedinasannya. Kunjungan PW-PPPKA Jawa Timur ke Kemenag Surabaya juga menjadi simbol adanya kesinambungan antara generasi senior dan generasi yang saat ini masih aktif menjalankan tugas.
Pengabdian yang telah dilakukan para pensiunan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat diteruskan melalui transfer pengalaman dan pengetahuan kepada generasi penerus. Dalam konteks tersebut, silaturahmi menjadi lebih dari sekadar pertemuan. Silaturahmi menjadi jembatan untuk menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kebutuhan masa kini serta tantangan pelayanan di masa depan. Kemenag Surabaya sendiri terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Berbagai perubahan dalam sistem pelayanan, digitalisasi, tuntutan transparansi, hingga kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks menuntut aparatur untuk terus belajar dan beradaptasi.
Di tengah perubahan tersebut, pengalaman para senior dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran agar proses transformasi organisasi tetap berjalan dengan mempertahankan nilai-nilai pengabdian yang telah menjadi bagian dari budaya Kementerian Agama. Muslim berharap komunikasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut dan tidak berhenti pada kunjungan kali ini. Menurutnya, masukan dari para senior justru diperlukan sebagai bagian dari upaya memperbaiki dan mengembangkan pelayanan Kemenag Surabaya.
Semangat tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada para pegawai yang telah mendedikasikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui Kementerian Agama. Pada akhirnya, purna tugas bukan berarti purna pengabdian. Ketika masa kedinasan berakhir, pengalaman, keteladanan, dan nilai-nilai pengabdian tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui silaturahmi antara Kemenag Surabaya dan PW-PPPKA Jawa Timur, diharapkan terbangun hubungan yang semakin erat antara pegawai aktif dan para pensiunan. Tidak hanya menjaga persaudaraan, tetapi juga menciptakan ruang kolaborasi dan pertukaran gagasan untuk mendukung kemajuan Kementerian Agama.
Sebab, sebuah institusi tidak hanya dibangun oleh mereka yang sedang berada di dalamnya hari ini, tetapi juga oleh mereka yang pernah mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya di masa lalu. Merawat silaturahmi dengan para senior berarti merawat sejarah, menghargai pengabdian, sekaligus menjaga agar estafet perjuangan dan pelayanan Kementerian Agama terus berjalan dari generasi ke generasi.

