SURABAYA – Pendidikan tidak cukup hanya membentuk peserta didik menjadi pintar secara akademik. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, madrasah juga memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk generasi yang memiliki aqidah kuat, berakhlak, mampu menghargai perbedaan, sekaligus terlindungi dari berbagai pengaruh negatif yang dapat mengancam perkembangan mereka. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelopor Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digelar Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kota Surabaya pada Rabu (26/8/2026), bertempat di Ruang Kelas MIN 1 Kota Surabaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sekaligus membangun kapasitas para pelopor KBC agar mampu menerjemahkan nilai-nilai cinta ke dalam proses pendidikan di madrasah. Para pelopor diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi mampu menghadirkan budaya pendidikan yang aman, ramah, inklusif, dan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam proses mencerdaskan generasi bangsa.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, hadir sebagai narasumber sekaligus memberikan penguatan kepada para peserta. Dalam arahannya, Muslim menegaskan bahwa penerapan Kurikulum Berbasis Cinta harus berjalan seiring dengan penguatan aqidah. Menurutnya, konsep cinta dalam pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai sikap yang mengabaikan prinsip dan nilai-nilai agama. Sebaliknya, cinta harus menjadi pendekatan dalam menanamkan nilai agama secara lebih humanis, sehingga peserta didik memiliki pemahaman keagamaan yang kuat sekaligus mampu hidup berdampingan dengan orang lain dalam suasana yang damai.
“Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta harus berjalan bersama dengan penguatan aqidah. Anak-anak harus memiliki dasar agama yang kuat, tetapi pada saat yang sama juga harus memiliki sikap terbuka, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dengan siapa pun,” tegas Muslim.
Ia menjelaskan, pendidikan agama memiliki posisi strategis dalam membentuk cara pandang peserta didik terhadap kehidupan. Pemahaman agama yang baik diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki keyakinan kuat, tetapi tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak mudah terprovokasi, serta mampu menunjukkan sikap yang damai dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Muslim, madrasah memiliki ruang yang sangat strategis untuk membangun karakter tersebut sejak usia dini. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenal dirinya, memahami orang lain, menghargai perbedaan, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. Karena itu, implementasi KBC harus benar-benar terasa dalam keseharian peserta didik. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam menunjukkan sikap kasih sayang, kesabaran, penghargaan, dan kepedulian kepada peserta didik.
“Kasih sayang harus terus disebarkan. Anak-anak kita harus merasakan bahwa madrasah adalah tempat yang aman untuk belajar, berkembang, dan menjadi dirinya sendiri,” tegas Muslim.
Era Digital dan Tantangan Perlindungan Anak
Lebih lanjut, Muslim menyoroti perkembangan teknologi yang saat ini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Teknologi memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan karena membuka akses informasi dan sumber belajar yang semakin luas. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat tantangan yang harus mendapatkan perhatian serius dari orang tua, guru, dan madrasah. Ruang digital dapat menjadi pintu masuk berbagai informasi yang tidak sesuai dengan usia maupun perkembangan psikologis peserta didik. Anak-anak yang belum memiliki kemampuan menyaring informasi secara matang dapat dengan mudah menerima, meniru, bahkan menyebarkan kembali berbagai konten yang mereka temukan.
Karena itu, Muslim mengingatkan pentingnya membangun kemampuan literasi digital sekaligus penguatan karakter dan agama sebagai benteng bagi peserta didik. Menurutnya, perlindungan anak di era digital tidak cukup hanya dilakukan dengan melarang penggunaan teknologi. Anak juga perlu dibekali kemampuan untuk memahami mana informasi yang baik, mana yang tidak sesuai, serta bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

“Teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi kita juga harus memahami risikonya. Anak-anak perlu dibimbing agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan tidak mudah menerima informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah potensi penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme melalui ruang digital. Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang perlu mendapatkan pendampingan karena masih berada dalam tahap perkembangan karakter dan pencarian identitas. Muslim menilai, penguatan aqidah yang benar, pendidikan karakter, moderasi beragama, serta lingkungan pendidikan yang penuh kasih sayang merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan generasi muda. Madrasah harus menjadi benteng pertama yang memberikan pemahaman keagamaan secara benar, damai, dan menenangkan. Peserta didik perlu dibimbing agar memiliki kecintaan terhadap agama tanpa kehilangan sikap menghargai orang lain.
Guru dan Pelopor KBC Jadi Penggerak Perubahan
Dalam konteks tersebut, keberadaan pelopor Kurikulum Berbasis Cinta menjadi sangat penting. Para pelopor tidak hanya dituntut memahami konsep KBC, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan budaya pendidikan di lingkungan madrasah. Nilai-nilai cinta perlu diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupan madrasah, mulai dari proses pembelajaran, hubungan guru dan siswa, interaksi antarsiswa, hingga cara madrasah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
Guru harus mampu mengenali karakter peserta didik dan memahami bahwa setiap anak memiliki latar belakang, kemampuan, serta kebutuhan yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan menjadi alasan untuk memberikan perlakuan yang berbeda secara tidak adil, tetapi menjadi dasar untuk memberikan pendampingan yang sesuai.
Pendekatan pendidikan yang penuh kasih sayang juga diharapkan mampu mencegah berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Ketika peserta didik merasa dihargai dan didengarkan, mereka akan memiliki ruang yang lebih sehat untuk menyampaikan persoalan, bertanya, belajar, dan berkembang. KBC dengan demikian bukan sekadar perubahan istilah atau dokumen kurikulum, tetapi diharapkan menjadi perubahan cara pandang dalam mendidik.
Madrasah perlu membangun ekosistem pendidikan yang menjadikan kasih sayang sebagai kekuatan dalam membentuk karakter. Pendidikan harus mampu mengajarkan ilmu sekaligus membangun kepekaan sosial, tanggung jawab, toleransi, dan akhlak peserta didik.
Menyiapkan Generasi yang Kuat dan Humanis
Muslim menegaskan bahwa generasi masa depan membutuhkan dua kekuatan yang harus berjalan beriringan. Di satu sisi, mereka harus memiliki aqidah dan pemahaman agama yang kokoh. Di sisi lain, mereka harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman serta mampu hidup di tengah masyarakat yang beragam.
Kombinasi tersebut menjadi penting agar generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara karakter dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial. Madrasah diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang memiliki keyakinan kuat, berakhlak, toleran, kritis dalam menerima informasi, serta mampu menggunakan teknologi untuk hal-hal yang produktif. Melalui Bimtek Pelopor Kurikulum Berbasis Cinta ini, MIN 1 Kota Surabaya diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari gerakan penguatan pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai manusia yang harus dididik dengan ilmu sekaligus kasih sayang.
Pada akhirnya, pendidikan berbasis cinta bukan berarti mengurangi ketegasan dalam mendidik. Justru melalui cinta, guru dapat memberikan ketegasan dengan cara yang mendidik, memberikan arahan tanpa merendahkan, serta memberikan koreksi tanpa menghilangkan harga diri peserta didik. Dengan penguatan aqidah, karakter, toleransi, literasi digital, dan perlindungan anak, Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan mampu menjadi salah satu fondasi dalam menyiapkan generasi Surabaya yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, kematangan sosial, dan ketahanan menghadapi tantangan zaman. KBC pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana anak belajar, tetapi bagaimana anak merasa dicintai, dihargai, dilindungi, dan diarahkan untuk tumbuh menjadi manusia yang baik.

