PASURUAN – Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan beragama. Arus informasi yang begitu cepat tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga membuka ruang penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme yang dapat mengancam kerukunan masyarakat. Karena itu, penyuluh agama dituntut mampu mengambil peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyebarkan narasi keagamaan yang moderat, menyejukkan, dan memperkuat persatuan bangsa.
Komitmen tersebut menjadi salah satu penekanan dalam kegiatan Pengarahan dan Pembinaan Penyuluh Agama pada Kemah Moderasi Beragama yang diselenggarakan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Surabaya di Bumi Perkemahan Bakti Alam, Pasuruan, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas penyuluh agama lintas agama dalam membangun moderasi beragama sekaligus mempererat semangat kebersamaan dan kerukunan di tengah masyarakat.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, hadir memberikan pembinaan sekaligus arahan kepada seluruh penyuluh agama. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa penyuluh agama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan ruang digital sebagai media dakwah dan edukasi keagamaan yang membawa nilai-nilai kedamaian.
Menurutnya, media sosial dan platform digital saat ini telah menjadi ruang publik yang sangat berpengaruh dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap agama. Oleh karena itu, penyuluh agama tidak boleh hanya aktif di tengah masyarakat secara langsung, tetapi juga harus hadir di ruang digital dengan menghadirkan konten-konten edukatif yang memperkuat moderasi beragama, toleransi, serta semangat persatuan.

“Ruang digital harus dipenuhi dengan narasi keagamaan yang menyejukkan. Penyuluh agama memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan dakwah yang membangun, memberikan pencerahan, serta menjadi penyeimbang dari berbagai informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat,” tegas Muhammad Muslim.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa penyuluh agama memiliki peran penting sebagai early warning systemdalam mendeteksi secara dini berbagai potensi konflik sosial, intoleransi, radikalisme, maupun ekstremisme berbasis agama. Dengan kedekatan penyuluh bersama masyarakat, berbagai persoalan di tingkat akar rumput diharapkan dapat dikenali lebih awal sehingga dapat diselesaikan melalui pendekatan dialog, edukasi, dan pembinaan yang humanis.
Muhammad Muslim juga berharap penyuluh agama Kota Surabaya mampu menjadi teladan sekaligus barometer nasional dalam mengimplementasikan moderasi beragama. Menurutnya, kompetensi, integritas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi harus terus ditingkatkan agar penyuluh agama mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga harmoni kehidupan beragama di Kota Surabaya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh penyuluh agama untuk menjadikan kegiatan Kemah Moderasi Beragama sebagai momentum memperkuat sinergi, meningkatkan kapasitas, dan menyatukan komitmen dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat. Semangat kebersamaan yang terbangun diharapkan mampu memperkuat peran penyuluh sebagai ujung tombak Kementerian Agama dalam menjaga kerukunan umat beragama.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama Kota Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kualitas penyuluh agama sebagai agen moderasi beragama, pelopor harmoni sosial, serta penggerak dakwah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan penyuluh agama yang profesional, responsif, dan aktif mengisi ruang digital dengan nilai-nilai keagamaan yang damai, Surabaya diharapkan terus menjadi contoh kehidupan masyarakat yang rukun, toleran, dan harmonis.

