SURABAYA – Semangat berprestasi mewarnai pembukaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tahun 2026 jenjang Madrasah Aliyah (MA) di Kota Surabaya. Bertempat di MAN Kota Surabaya, kegiatan yang merupakan bagian dari pelaksanaan OMI secara serentak di seluruh Indonesia tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya, Muhammad Muslim, Senin (7/9/2026).
OMI 2026 diselenggarakan oleh Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Ajang ini menjadi ruang kompetisi sekaligus pengembangan potensi peserta didik madrasah, khususnya dalam bidang sains terintegrasi. Dalam sambutannya, Muhammad Muslim tidak hanya mengajak peserta untuk berjuang meraih prestasi. Ia menekankan bahwa sebelum berhadapan dengan peserta lain dalam sebuah kompetisi, setiap siswa harus terlebih dahulu mampu menghadapi tantangan yang ada dalam dirinya sendiri.
“Orang hebat lahir dari kegigihan menaklukkan ketakutan diri,” pesan Muslim.
Menurutnya, rasa takut, ragu, maupun kurang percaya diri sering kali menjadi tantangan yang justru lebih sulit ditaklukkan daripada persoalan yang dihadapi dalam kompetisi. Karena itu, keberanian untuk menghadapi dan mengendalikan diri menjadi bagian penting dalam perjalanan seseorang menuju keberhasilan.

“Taklukkan dirimu, maka kamu bisa menaklukkan dunia,” tegasnya.
Pesan tersebut disampaikan Muslim untuk membangun keyakinan para peserta agar tidak memandang kompetisi semata-mata sebagai ajang untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, OMI menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menguji kemampuan, keberanian, sekaligus mental mereka dalam menghadapi tantangan. Menurutnya, menjadi juara memang merupakan sesuatu yang patut diperjuangkan. Namun, hasil akhir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Setiap proses yang dilalui peserta, termasuk ketika menghadapi kegagalan, tetap memiliki nilai penting bagi perkembangan diri. Muslim pun berpesan kepada peserta yang nantinya belum berhasil meraih juara agar tidak menjadikan hasil tersebut sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
“Jika belum juara, jangan putus asa, jadikan pelajaran,” ujarnya.
Ia menilai pengalaman mengikuti kompetisi akan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Pengalaman menang maupun kalah sama-sama dapat memberikan pelajaran yang berguna untuk menghadapi tantangan berikutnya.
“Kita terlahir dari pengalaman,” imbuhnya.
Karena itu, Muslim meminta para peserta untuk terus bergerak dan tidak berhenti belajar. Menurutnya, seseorang tidak selalu langsung menemukan keberhasilan dalam satu kali usaha. Ada proses mencoba, menghadapi kesalahan, melakukan evaluasi, kemudian kembali memperbaiki diri.
“Selama tidak berhenti, kita akan menuju kebenaran,” tuturnya.
Semangat tersebut sekaligus menjadi pesan agar peserta OMI 2026 tidak mudah menyerah ketika menghadapi soal maupun tantangan selama kompetisi. Setiap tantangan hendaknya dihadapi dengan ketenangan, keyakinan, dan kemampuan terbaik yang dimiliki. Kepala Kemenag Surabaya itu juga menegaskan bahwa para peserta yang hadir dalam OMI merupakan siswa-siswa pilihan yang telah memiliki kemampuan dan layak untuk bersaing. Karena itu, ia meminta mereka tampil dengan penuh semangat serta percaya diri.
“Kalian adalah juara, terus berjuang dengan semangat dan percaya diri. Kalian layak menjadi yang terbaik,” pesan Muslim.
Menurutnya, kepercayaan diri bukan berarti merasa lebih unggul daripada peserta lain. Sebaliknya, percaya diri berarti memiliki keyakinan terhadap kemampuan sendiri, berani menunjukkan potensi, sekaligus tetap menghargai perjuangan peserta lainnya. OMI 2026 di Kota Surabaya jenjang MA yang dipusatkan di MAN Kota Surabaya menjadi bagian dari rangkaian kompetisi madrasah yang dilaksanakan secara berjenjang. Ajang tersebut memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus membangun pengalaman berkompetisi secara sehat.
Dalam pelaksanaannya, keberadaan guru dan pendamping juga menjadi bagian penting dalam perjalanan peserta. Para pendamping tidak hanya membantu mempersiapkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga memberikan dukungan dan motivasi agar peserta siap menghadapi kompetisi. Atas peran tersebut, Muhammad Muslim menyampaikan apresiasi kepada para pendamping yang telah membersamai para siswa.
“Terima kasih juga kepada para pendamping,” ucapnya.
OMI 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk mencari siswa terbaik di bidang sains. Bagi para peserta, kompetisi ini juga menjadi ruang untuk belajar menghadapi tekanan, membangun keberanian, menerima hasil dengan lapang, dan menjadikan setiap pengalaman sebagai bekal untuk tumbuh. Dari MAN Kota Surabaya, pesan yang dibawa para peserta bukan sekadar target meraih juara. Ada tantangan yang lebih mendasar untuk ditaklukkan terlebih dahulu, yakni rasa takut dan keraguan dalam diri sendiri. Sebab, ketika keberanian, semangat, dan kepercayaan diri telah tumbuh, langkah menuju prestasi akan menjadi semakin terbuka.

