SURABAYA – Membangun generasi yang mencintai Al-Qur’an membutuhkan kerja sama dan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya melalui lembaga pendidikan formal, pembinaan Al-Qur’an juga perlu diperkuat melalui masjid, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan Al-Quran dan komunitas masyarakat agar budaya membaca, mempelajari, menghafal, serta mengamalkan Al-Qur’an semakin tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam audiensi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Surabaya dengan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya yang berlangsung di Ruang Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Kamis (18/6/2026). Audiensi tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi antara Kementerian Agama dan BKPRMI dalam mendukung berbagai program pembinaan generasi muda, pengembangan dakwah masjid, serta penguatan gerakan literasi Al-Qur’an yang menjadi bagian dari visi besar mewujudkan Surabaya sebagai Kota Tilawah.
Dalam arahannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, menegaskan bahwa pembinaan generasi Qurani harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Menurutnya, tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut hadirnya generasi muda yang memiliki fondasi keagamaan yang kuat dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
“Generasi cinta Al-Qur’an tidak lahir secara instan. Harus ada pembinaan yang berkelanjutan, mulai dari kemampuan membaca, memahami, menghafal, hingga mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Muhammad Muslim menjelaskan bahwa Kementerian Agama Kota Surabaya saat ini terus menguatkan program Kota Tilawah sebagai upaya membangun budaya Qurani di tengah masyarakat. Salah satu fokus utama program tersebut adalah memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an dan memberantas buta aksara huruf hijaiyah di berbagai kalangan masyarakat.
Menurutnya, masih terdapat masyarakat yang membutuhkan pendampingan dalam membaca Al-Qur’an, sehingga diperlukan gerakan yang lebih masif melalui kolaborasi dengan penyuluh agama, pengurus masjid, dan organisasi keagamaan yang memiliki jaringan pembinaan hingga tingkat akar rumput.

“Pemberantasan buta aksara huruf hijaiyah harus menjadi gerakan bersama. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, sehingga kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat tumbuh dan berkembang,” tegasnya.
Muhammad Muslim menambahkan bahwa masjid memiliki posisi strategis sebagai pusat pembelajaran dan syiar Al-Qur’an. Karena itu, BKPRMI diharapkan dapat terus menggerakkan kegiatan-kegiatan yang mendorong lahirnya generasi Qurani melalui taman pendidikan Al-Qur’an, majelis pembelajaran Al-Qur’an, serta berbagai program pembinaan remaja masjid.
Selain penguatan kemampuan membaca Al-Qur’an, Muhammad Muslim juga mendorong pengembangan program tahfidz Al-Qur’an di lingkungan masjid dan masyarakat. Menurutnya, pembinaan hafalan Al-Qur’an perlu terus diperluas untuk melahirkan lebih banyak hafidz dan hafidzah yang kelak menjadi aset umat sekaligus penguat identitas Surabaya sebagai Kota Tilawah.

“Program tahfidz harus terus dikembangkan. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menghafal dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan,” ujarnya.
Lebih lanjut, mengajak BKPRMI untuk terus berinovasi dalam metode pembelajaran Al-Qur’an dan memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana dakwah yang efektif. Dakwah digital dinilai memiliki peran penting dalam menjangkau generasi muda sekaligus menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin.
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Muslim juga menyampaikan harapannya agar sinergi antara Kementerian Agama Kota Surabaya dan BKPRMI dapat terus diperkuat melalui berbagai program pembinaan, pelatihan kepemimpinan Islam, pengembangan dakwah masjid, serta gerakan literasi Al-Qur’an yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan semakin banyak lahir generasi yang mencintai Al-Qur’an, memiliki akhlak mulia, serta mampu menjadi pelopor kebaikan di tengah masyarakat. Pada akhirnya, upaya tersebut akan semakin memperkuat langkah bersama dalam meneguhkan Surabaya sebagai Kota Tilawah yang hidup dengan semangat Al-Qur’an dan melahirkan generasi Qurani untuk masa depan.

