Surabaya— Upaya menjaga generasi muda dari pengaruh paham radikalisme terus menjadi perhatian KanKemenag Kota Surabaya. Pendekatan edukatif, persuasif, dan pembinaan keagamaan menjadi langkah yang dikedepankan untuk membantu anak-anak muda mendapatkan pemahaman agama yang utuh, moderat, serta selaras dengan nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Kepala KanKankemenag Kota Surabaya,Muhammad Muslim, bersama timDensus 88 melakukan pendampingan kepada seorang siswa SMP di Surabaya yang terindikasi terpapar paham radikalisme pada Senin, 18 Mei 2026. Pertemuan tersebut dilakukan dengan suasana dialogis dan penuh pendekatan kemanusiaan, bukan hanya untuk memberikan pemahaman agama yang benar, tetapi juga membuka ruang agar siswa tersebut dapat kembali membangun harapan dan masa depan yang lebih baik.

Dalam proses pendampingan tersebut, Muslim memberikan penguatan mengenai pentingnya memahami ajaran agama secara menyeluruh. Ia menyampaikan bahwa agama hadir untuk membawa kebaikan, kedamaian, dan kemaslahatan, sehingga semangat keberagamaan harus diwujudkan dalam tindakan positif yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Muslim menegaskan bahwa generasi pelajar memiliki bentuk perjuangan yang sesuai dengan perannya. Menurutnya, belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak, menghormati orang tua, serta memberikan manfaat bagi lingkungan merupakan bagian dari nilai perjuangan dalam kehidupan seorang muslim.

“Sekolah adalah jihad, berbakti juga jihad. Yang utama dalam hidup ini adalah menyembah Allah SWT dan berbakti kepada orang tua,” pesan Muslim.
Pesan tersebut menjadi penguatan bahwa makna jihad tidak dapat dipahami secara sempit, melainkan mencakup berbagai bentuk kebaikan dan pengabdian. Bagi seorang pelajar, perjuangan terbesar adalah membangun kualitas diri melalui pendidikan, memperbaiki akhlak, serta mempersiapkan masa depan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Muslim menjelaskan bahwa anak-anak muda membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan pendampingan positif dalam proses tumbuh dan berkembang. Pemahaman agama yang kuat harus dibangun dengan ilmu, bimbingan dari para pendidik, serta lingkungan yang memberikan keteladanan agar nilai-nilai keagamaan dapat dipahami secara tepat.
Sebagai tindak lanjut proses pendampingan, Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya berencana memfasilitasi siswa tersebut untuk melanjutkan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memberikan ruang pembinaan yang lebih intensif dengan pendekatan keagamaan yang inklusif, ramah, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Lingkungan pesantren dinilai dapat menjadi salah satu ruang pendidikan yang memberikan keseimbangan antara pembelajaran agama, pembentukan akhlak, serta penguatan karakter kebangsaan. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan siswa mampu memahami agama secara lebih komprehensif dan membangun kembali kepercayaan dirinya.
Penanganan terhadap pengaruh radikalisme di kalangan generasi muda membutuhkan kerja sama antara keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. Pendekatan yang mengedepankan kepedulian, pembinaan, serta edukasi menjadi langkah penting agar anak-anak tetap berada dalam lingkungan yang positif.
Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya berkomitmen untuk terus memperkuat moderasi beragama sebagai upaya membangun masyarakat yang damai dan harmonis. Pendampingan ini menjadi bukti bahwa pembinaan generasi muda tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga menghadirkan ruang pemulihan agar mereka dapat kembali tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.

