Surabaya — Penguatan kualitas pendidikan madrasah tidak hanya dilakukan melalui penyempurnaan kurikulum, tetapi juga dengan membangun karakter peserta didik melalui program-program unggulan yang menjadi identitas madrasah. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya dalam mewujudkan madrasah yang unggul, adaptif, dan semakin dipercaya sebagai pilihan utama masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Telaah dan Review Penyusunan Dokumen Kurikulum Madrasah Berbasis Cinta yang diselenggarakan oleh Seksi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya pada Selasa (14/07/2026) di Aula Kankemenag Kota Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap selama tiga hari berurut-urut dan diikuti oleh seluruh Kepala RA, MI, MTs, dan MA negeri maupun swasta, serta Koordinator Akademik RA, MI, MTs, dan MA se-Kota Surabaya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah sekaligus memperkuat arah kebijakan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, akhlak mulia, dan budaya belajar yang humanis.
Plh. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya sekaligus Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Agus Yulianto, dalam arahannya menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan madrasah yang berkualitas, inklusif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era modern. Menurutnya, setiap madrasah di Kota Surabaya perlu terus mengembangkan keunggulan masing-masing dengan memperkuat program-program yang menjadi identitas pendidikan madrasah. Salah satu fokus utamanya adalah menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap Al-Qur’an sekaligus memperkokoh tradisi literasi keislaman sebagai ciri khas pendidikan madrasah.
Agus menjelaskan bahwa penguatan tersebut diwujudkan melalui dua program unggulan Kementerian Agama Kota Surabaya, yaitu Madrasah Cinta Qur’an (MCQ) dan Madrasah Cinta Kitab (MACIKA). Kedua program tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an, mampu membaca serta memahami kitab-kitab keislaman, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menambahkan, penguatan MCQ dan MACIKA juga merupakan bagian dari ikhtiar besar Kementerian Agama Kota Surabaya dalam memperkokoh eksistensi Surabaya sebagai Kota Tilawah, sebuah gerakan yang bertujuan membangun masyarakat yang semakin dekat dengan Al-Qur’an serta memperluas budaya literasi keislaman di tengah kehidupan masyarakat.

“Mari kita bekerja sama dan berkolaborasi untuk mewujudkan masyarakat Surabaya yang lebih religius sehingga madrasah menjadi prioritas utama masyarakat dalam memilih satuan pendidikan bagi anak-anaknya,” tegas Agus.
Lebih lanjut, Agus mengajak seluruh kepala madrasah dan koordinator akademik untuk terus berinovasi dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta di setiap proses pembelajaran. Menurutnya, keberhasilan kurikulum tidak hanya diukur dari kelengkapan dokumen administrasi, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai cinta, penghormatan, toleransi, dan akhlak mulia benar-benar tumbuh dalam kehidupan warga madrasah.
Melalui kegiatan telaah dan review ini, diharapkan seluruh madrasah di Kota Surabaya memiliki dokumen kurikulum yang semakin berkualitas, implementatif, dan selaras dengan kebijakan Kementerian Agama. Dengan dukungan program unggulan MCQ dan MACIKA, madrasah diharapkan mampu menghadirkan pendidikan yang unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, serta semakin dipercaya masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan generasi Qurani, religius, dan berdaya saing di masa depan.

