Surabaya — Pembinaan pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) yang digelar Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya pada Rabu (24/06/2026) menghadirkan suasana yang berbeda. Tidak hanya menjadi forum penguatan disiplin dan kinerja aparatur, kegiatan yang berlangsung di Aula Kankemenag Kota Surabaya tersebut juga menjadi momentum refleksi tentang makna pengabdian dan dedikasi seorang aparatur sipil negara.
Dalam pembinaan yang dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, para peserta mendapatkan kesempatan mendengarkan wejangan dan pesan pengabdian dari Kepala KUA Kecamatan Tambaksari, Marfa’i, yang akan memasuki masa purna tugas per 1 Juli 2026 mendatang. Momen tersebut berlangsung penuh khidmat dan haru. Setelah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai penghulu sekaligus ASN Kementerian Agama, Marfa’i membagikan pengalaman serta nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Di hadapan para kepala KUA, penghulu, penyuluh agama, dan pegawai KUA se-Kota Surabaya, Marfa’i menegaskan bahwa pengabdian harus dilandasi keikhlasan dan tanggung jawab, bukan semata-mata orientasi pada penghargaan atau imbalan.

“Bekerja itu jangan mengharapkan pemberian apa pun. Bekerjalah dengan ikhlas karena kerja adalah sebuah pengabdian dan ibadah,” pesannya.
Menurutnya, keikhlasan merupakan fondasi utama yang akan menjaga integritas seorang ASN dalam menjalankan amanah. Dengan niat pengabdian yang benar, setiap pekerjaan tidak hanya menghasilkan capaian kinerja, tetapi juga bernilai ibadah dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, Marfa’i juga menitipkan pesan khusus kepada para Kepala KUA agar senantiasa menjadi teladan bagi pegawai dan masyarakat di lingkungan kerjanya. Kepemimpinan, menurutnya, tidak hanya ditunjukkan melalui kebijakan dan instruksi, tetapi juga melalui keteladanan dalam sikap, perilaku, dan etos kerja sehari-hari.
Marfa’i juga berpesan kepada para penghulu muda agar tidak pernah berhenti belajar dan terus meningkatkan kompetensi diri. Menurutnya, tantangan pelayanan keagamaan akan terus berkembang sehingga membutuhkan aparatur yang adaptif, profesional, dan memiliki kemauan untuk terus bertumbuh.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, memberikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan Marfa’i selama bertugas. Pengalaman dan keteladanan pegawai senior merupakan aset berharga yang harus diwariskan kepada generasi penerus di lingkungan Kementerian Agama. Nilai-nilai integritas, kedisiplinan, dan keikhlasan yang disampaikan menjadi pengingat penting bagi seluruh ASN agar senantiasa menjadikan tugas dan jabatan sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Pembinaan tersebut pun menjadi lebih dari sekadar agenda rutin kepegawaian. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang arti pengabdian yang sesungguhnya, bahwa keberhasilan seorang ASN tidak hanya diukur dari lamanya masa kerja atau tingginya jabatan, tetapi dari jejak manfaat dan keteladanan yang ditinggalkan bagi orang lain.
Menjelang masa purna tugasnya, Marfa’i meninggalkan pesan yang sederhana namun mendalam bahwa integritas, keikhlasan, dan semangat melayani adalah warisan terbaik yang harus terus dijaga dan diteruskan oleh setiap insan Kementerian Agama dalam menjalankan amanah pelayanan kepada masyarakat.

