Cetak Generasi Qurani dan Berantas Buta Huruf Hijaiyah, Kemenag Surabaya Perkuat Program Tahfidz di Sekolah
Surabaya — Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggeser nilai-nilai spiritual generasi muda, Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya mengambil langkah strategis dengan memperkuat program tahfidz Al-Qur’an di lingkungan sekolah. Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar besar dalam membangun generasi Qurani sekaligus menjawab tantangan masih adanya buta huruf hijaiyah di masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program sekolah tahfidz yang digelar oleh Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kemenag Kota Surabaya pada Kamis (30/04/2026) di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya. Sebanyak 34 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMA, SMK hingga SLB, turut ambil bagian dalam kerja sama ini.

Lebih dari sekadar seremoni, penandatanganan MoU ini menandai langkah konkret Kemenag Surabaya dalam membangun ekosistem pendidikan yang menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi utama pembentukan karakter. Di tengah tuntutan capaian akademik, penguatan nilai spiritual dipandang sebagai kebutuhan mendesak untuk menjaga arah pembangunan generasi bangsa.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, menegaskan bahwa pendidikan Al-Qur’an harus dimulai sejak dini sebagai pondasi dalam membentuk kepribadian anak. Menurutnya, generasi Qurani bukan hanya mereka yang mampu membaca dan menghafal, tetapi juga mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

“Penting bagi kita untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak kita. Dari situlah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter religius yang kuat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa program tahfidz ini merupakan bagian dari visi besar menjadikan Surabaya sebagai Kota Tilawah—sebuah konsep pembangunan masyarakat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat nilai dan inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kerangka tersebut, penguatan program tahfidz di sekolah dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan literasi Al-Qur’an secara sistematis. Kolaborasi dengan satuan pendidikan menjadi kunci dalam memastikan bahwa pembelajaran Al-Qur’an tidak bersifat sporadis, melainkan terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.
Lebih jauh, program ini juga diarahkan untuk melahirkan generasi hafiz dan hafizah yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial.

“Harapan kita, Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota metropolitan, tetapi juga sebagai kota religius yang mampu mencetak generasi penghafal Al-Qur’an dan membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Ke depan, Kemenag Surabaya menargetkan program tahfidz tidak berhenti sebagai kegiatan tambahan, melainkan menjadi bagian integral dari budaya belajar di sekolah. Dengan pendekatan tersebut, upaya membumikan Al-Qur’an diharapkan tidak hanya berdampak pada peserta didik, tetapi juga menjalar ke lingkungan keluarga dan masyarakat secara luas.
Dengan langkah ini, Kemenag Surabaya tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membentuk arah peradaban—mewujudkan generasi Qurani sebagai fondasi menuju masyarakat yang religius, berkarakter, dan berdaya saing.

